![]() |
Kita pernah menjadi produsen dan
eksportir utama dunia untuk minyak mentah. Pernah puncaknya itu produksi kita
1,6 juta barel perhari bandingkan dengan sekarang yang di bawah 800 ribu barel
per hari. Pada waktu itu konsumsinya masih sekitar 400-600 ribu barel perhari.
Jadi pada puncaknya itu kita bisa eksport 1,2 juta barel per hari. Kita menjual
kelebihan produksi minya kita itu keluar (ekspor). Nah sebetulnya rente itu,
pemburuan rente terjadi sejak saat itu. Rente itu dalam artian ini memburu
nilai ekonomi yang melebihi dari batas batas kepatutan. Jadi ga mungkin itu.
Dan dia hanya bisa melakukan itu kalau berkolaborasi dengan penguasa.
Kalau dia bersaing secara bebas
di pasar, ga mungkin. Kalau rente ini ada dimensi kedekatan dengan kekuasaan.
Dia tidak mungkin memperolah keuntungan yang super besar tanpa back
up/dukungan, tanpa kedekatan dengan penguasa yang memberikan lisensi. Nah pada
waktu itu didirikanlah yang namanya (pada tahun 1969) perusahaan yang namanya
PERTA GROUP (Didirikan di Bahama. Perusahaan berbadan hukum Bahama, berkantor
di Hongkong. Kenapa tidak di Hongkong? Karena Bahama itu tax heaven). Itu terdiri
dari Perta Oil Marketing Coorporation Limited yang didirikan oleh Pertamina
kemudian Perta Oil Marketing Coorporation – perusahaan California yang
menjalankan aktivitas kesehariaannya di California yang dipimpin oleh mantan
CIA di Jakarta. Nah jadi satu Amerika satu Indonesia karena minyak ini sebagian
besar dijual ke Amerika. Nah kemudian tahun 1978 reorganisasi besar besaran,
perusahaan yang berbasis di Bahama ini digantikan oleh Perta Oil Marketing
Limited berbasis di Hongkong.
Pemegang sahamnya karyawan
Pertamina (kira kira 1%) kemudian ada Bob Hasan dan Tommy Soeharto sisanya.
Anda bayangkan waktu itu 1,2 juta barel katakanlah jika fee-nya 1 dollar per
barel per hari, anda kalikan saja 360 hari. Itu rentenya yang mereka dapat. Nah
1998 Pak Harto mundur, mereka tiarap kemudian Pertamina mengambil alih seluruh
saham milik mereka mereka itu sehingga bisa dikatakan 100% punya Pertamina. Nah
setelah itu kita masuk era baru, produksi turun terus, konsumsi naik, dari net
eksportir menjadi net importir. Nah rentenya makin besar diantisipasi sama
mereka, rentenya makin besar kalau impor.
Kan dulu ga ada impor atau
impornya kecil. Sekarang kalau kita membangun butuh energi sedangkan konsumsi
kita tinggi tapi produksi minyak kita turun terus sehingga kita jadi net
importir diantisipasilah maka si Perta yang di Hongkong itu bikin anak usaha
namanya PES (Pertamina Energy Service) di Singapura itu penghubungnya
Pertamina. Dikatakan oleh teman teman dulu waktu saya investigasi itu “ini
trading company nya Pertamina?” Saya bilang bukan. Dia cuma agen pembelian
Pertamina. Jadi Pertamina butuh minyak, kan kalau impor, jadi agenlah si PES
Singapura ini, leluasa dia di Singapura untuk main main, di Jakartanya bersih
gitu.
Jadi main kotornya di Singapura-
diaturlah siapa yang bisa memasok minyak, minyak mentah, BBM, RON 88 masih
dijual sampai sekarang. RON 88 tidak dijual di mana mana, di Singapura pun
tidak ada yang namanya bensin premium itu, Jadi dibeli bensin yang kualitasnya
tinggi kemudian dicampur dengan nafta (ampasnya minyak) dapatlah Premium 88.
Oktan number 88. Dan itu sudah lama heboh bahkan pernah menteri BUMN Pa Dahlan
Iskan, dia sesumbar, sesumbar bagus “akan saya bubarkan Petral (jaman SBY) dan
dipanggil ke istana 2 kali, “jangan main main soal ini” gitu ya e.. akhirnya
tidak jadi pembubaran itu tapi kesannya ada semacam pembenahan bohong.
Nah pembenahan ini, e oke dulu
ada trader trader belinya dari trader trader..e sekarang maksudnya jaman Pak
SBY itu, diubahlah pokoknya PES hanya boleh membeli dari National Oil Company.
Jadi misalnya Petronas punya Petco – trading companynya harus beli dari BUMN
lah. Kira kira begitu. Membeli minyak dari BUMN, dari Angola, dari macam macam.
Nah padahal kita tau sekali kalau di pasar minyak itu-yang punya minyak ya
trader. Trader tidak ada salahnya. Yang salah adalah trader bohong bohongan.
Yang selama ini adalah trader
bohong bohongan, makelar gitu gitulah. Pengertian trader itu saya membeli
minyak dari perusahaan A menjual ke perusahaan B bukan untuk diri saya sendiri.
Kalau PES kan membeli minyak untuk Pertamina. Nah itu bukan trader tapi tangan
kanan pembelian Pertaminalah. Nah disitulah puncak dari e.. ya dasar dari yang
terlibat banyak ya, ya penguasa penguasa e.e tetap dipelihara sebetulnya e
praktek yang lama tapi kedoknya seolah olah kan kalau BUMN dengan BUMN kan
aman. Tapi ada BUMN dari Maldives. Maldives itu penduduknya puluhan ribu,
tempat liburan, tidak punya minyak tapi punya NOC. Nah jadi si Pertamina ini
tender, Maldives yang menang tapi yang memasok minyak itu ya si Riza Chalid
itu. Riza Chalid yang kita tau lah ya... yang sakti itu dicari katanya susah
cari alamatnya kata Polisi, kata Jaksa itu kan? Nah sekarang dia di dekat
dengan Nasdem.
Jadi dalam satu acara Nasdem, dia
sudah di situ dan dia punya perusahaan sama Jhony Plate orang Nasdem itu main
di migas sampai sekarang dapat kredit dari BRI. Baru sekarang tu baru 26 juta
dollar kemarin dikucurkan lagi, top up ya. Jadi ga berhenti berhenti itu. Nah
dengan KPK seperti sekarang, makin leluasalah mereka.
Kerugian
negara?
Kan si Pertamina, harusnya si PES
ini harusnya bisa membeli langsung dari yang punya minyak. Tapi yang punya
minyak ga bisa jual langsung. Ada ranger yang pada umumnya di lakukan oleh 2
perusahaannya si Riza Chalid namanya Ferita dan Global Resources. Nah mereka
yang ngatur. Dia ga main langsung tapi dia yang ngatur, pokoknya kali ini siapa
masok apa. Karena hampir seluruh trader di Singapura datang ke kami jadi mereka
minta diundang oleh kami ke kantor. Sukarela, ongkos meraka tanggung sendiri. Shell,
BP, pokoknya yang besar besar di Singapura itu-mereka bilang kalau tender
dengan PES mereka kalah selalu, ga pernah menang.
Tapi dia memasok terus minyaknya
ke Indonesia (bingung ga - minyak dari mana yg dipasok PES?). Itu pengakuan
mereka. Tanpa rahasia – dipertemuannya ga tertutup, dikantor kami di jalan
Plaju dulu itu ya? Nah jadi yang ngatur itu ada siluman. Shell, BP selalu kalah
karena spesifikasinya aneh, waktu pengiriman yang cepat dst. Tapi anehnya
minyak dari Shell, BP terus dipasok ke Indonesia. Mereka capek berbisnis dengan
Indonesia. Mereka ingin bisnis mereka beres. Menyakitkan karena mereka punya
aturan yang tidak boleh seperti itu.
Seteleh investigasi PES
dibubarkan. Menjelang pemilu 2014, perusahaan Riza itu mengambil fee 2 kali
lipat dan kontraknya ke muka (yg sebelumnya 3 bulan ke muka). Jadi minta
uangnya duluan untuk 6 bulan ke depan (di duga berkaitan dengan Pemilu). Karena
itu kami merekomendasikan dilakukan audit forensik untuk pengadaan minyak 2012
– 2014. Kalau tidak salah diperpanjang lagi. Intinya kami tidak ingin praktek
seperti ini dinikmati oleh para bandit dan bandit itu membiayai partai politik
untuk berkuasa. Jadi negara bandit kita. Demokrasi seolah olah jalan,
prosedural – di belakangnya diatur oleh para bandit ini. Nah itu yang kami
ingin ungkap gitu ya. Walaupun itu bukan satu satunya tugas kami. Nah setelah
dibubarkan 2015, dikembalikan ke Pertamina Indonesia Jakarta itu namanya ada
suplay change jamannya Arie Soemarno-dirut Pertamina, dia bikin namanya Suply
Change Pertamina.
Jadi pengadaan minyaknya oleh
Pertamina langsung, formulanya ada dan pengadaannya dikembalikan ke Pertamina.
Nah waktu itu digantilah Direktur Pengadaan Pertaminya ke Daniel Purba. Daniel
Purba ini salah satu Tim kami. Jadi rekomendasi kami langsung diterapkan. Jadi
dibolehkan semua pemain pemain dibuka ikut tender, tidak harus NOC, IOC boleh,
NOC boleh. Nah waktu itu ada upaya yang ingin mengerdilkan Suply Change
Division ini. Bahkan pernah anak Riza Chalid itu mendatangi kantor Pertamina
itu sudah ada di kamarnya Pa Daniel Purba, diusir oleh Pa Daniel. Intinya
setanpun boleh bersaing dengan setan lain. Sehingga margin turun. Paling tinggi
0,3 dollar fee per barel dibandingkan dengan yang sebelumnya yang sampai 2
dollar. Sehingga ada penghematan ratusan juta dollar yang didapat oleh
Pertamina menurut Pa Daniel. Tapi setelah Pa Daniel (yang dilengserkan Rini
Soemarno karena barangkali ada yang terinjak kakinya) dan diganti dengan yang
sekarang ini sudah banyak, saya ga ngikutin lagi tapi setidaknya sistem
pengadaan yang sudah berjalan secara kompetitif, dilanjutkanlah harapannya.
Bambang
Iryanto Direktur Utama Pertamina Energy Trading Limited (Petral) (2013 - 2015)
adalah pion. Dia diperintahkan Riza Chalid untuk mengatur seluruh tender
pengadaan minyak. Kita lihat saja Riza Chalid berkawan dengan siapa. Riza
Chalid pernah ketemu Jokowi dibawa oleh Hatta Rajasa (kalau ga salah). Hatta
Rajasa digadang gadang mau jadi Wakil Jokowi saat itu. Nanti semua urusan saya
yang atur deh.. demikian celetukan Riza. Mereka sebenarnya mau ngatur negara
ini persis kasus Papa Minta Saham.
** Transkrip percakapan Faisal Basri

Komentar
Posting Komentar