Yerusalem : Kota Tiga Agama dalam pandangan Karen Armstrong

Karen Armstrong, seorang sejarawan agama dan penulis yang sangat dihormati, telah menulis banyak karya yang mendalam mengenai hubungan antaragama dan sejarah keyakinan-kepercayaan utama dunia. Salah satu karya pentingnya, "Jerusalem: One City, Three Faiths," memberikan pandangan yang komprehensif dan mendalam mengenai Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama besar: Kristen, Islam, dan Yahudi.

 

Yerusalem dalam Perspektif Karen Armstrong

Menurut Armstrong, Yerusalem adalah lebih dari sekadar sebuah kota; ia adalah simbol dan pusat spiritual bagi banyak orang yang berpegang pada tiga agama monoteistik besar. Setiap agama ini menganggap Yerusalem sebagai tempat yang sakral, dan konflik serta ketegangan yang melibatkan kota ini sering kali mencerminkan ketegangan yang lebih besar antara keyakinan, identitas budaya, dan geopolitik.

 

Dalam bukunya, Armstrong tidak hanya menggambarkan sejarah Yerusalem dari perspektif religius, tetapi juga menguraikan peran kota ini dalam pembentukan dan perkembangan identitas agama-agama tersebut. Berikut ini adalah pembahasan lebih mendalam tentang Yerusalem dari perspektif Kristen, Islam, dan Yahudi menurut Karen Armstrong:

 

Yerusalem dalam Agama Yahudi

Bagi umat Yahudi, Yerusalem adalah pusat spiritual dan identitas mereka. Dalam tradisi Yahudi, Yerusalem adalah tempat berdirinya Kuil Solomon (Bait Suci pertama) sekitar 3.000 tahun yang lalu. Kuil ini dianggap sebagai tempat paling suci di bumi, di mana umat Yahudi percaya Tuhan hadir secara langsung. Bait Suci ini dihancurkan oleh bangsa Babilonia pada tahun 586 SM, dan meskipun kuil tersebut tidak pernah dibangun kembali dengan ukuran atau kemegahan yang sama, Yerusalem tetap menjadi pusat agama dan simbol harapan bagi umat Yahudi.

 

Salah satu bagian paling sakral di Yerusalem adalah Tembok Barat (atau Tembok Ratapan), yang merupakan sisa-sisa dari Bait Suci yang kedua yang dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70 M. Bagi umat Yahudi, Tembok Barat bukan hanya sekadar reruntuhan; ia adalah tempat mereka dapat berdoa dan merasakan kedekatan dengan Tuhan.

 

Yerusalem juga memainkan peran penting dalam eskatologi Yahudi (pandangan tentang akhir zaman). Menurut tradisi, Yerusalem akan menjadi tempat di mana Mesias akan datang untuk membawa kedamaian dan kebangkitan umat manusia. Harapan ini memperkuat keterikatan spiritual umat Yahudi terhadap kota ini.

 

Yerusalem dalam Agama Kristen

Bagi umat Kristen, Yerusalem adalah tempat yang sangat penting karena ia adalah tempat kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kristen menganggap Yerusalem sebagai kota yang menyimpan kenangan-kenangan besar dalam ajaran iman mereka. Golgotha, tempat Yesus disalibkan, terletak di Yerusalem, dan Makam Suci, tempat yang diyakini sebagai makam Yesus setelah ia dibangkitkan, menjadi tempat ziarah utama bagi umat Kristen.

 

Bagi umat Kristen, Yerusalem bukan hanya penting sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai simbol keselamatan dan pengharapan bagi umat manusia. Peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus di Yerusalem—seperti Perjamuan Terakhir, penyaliban, dan kebangkitannya—merupakan inti dari ajaran Kristen tentang penebusan dosa dan kehidupan kekal.

 

Sejak masa Konstantinus Agung pada abad ke-4, Yerusalem menjadi pusat penting bagi Kekristenan. Basilika Makam Kudus yang dibangun di atas makam Yesus adalah salah satu tempat suci paling penting di dunia Kristen. Banyak umat Kristen mengunjungi Yerusalem untuk berziarah, mengikuti jejak Yesus, dan merenungkan makna spiritual dari peristiwa-peristiwa tersebut.

 

Yerusalem dalam Agama Islam

Bagi umat Islam, Yerusalem juga merupakan kota yang sangat sakral. Meskipun Mekah dan Madinah adalah dua kota yang lebih utama dalam Islam, Yerusalem tetap memiliki peran yang sangat penting. Yerusalem dikenal dalam tradisi Islam sebagai Al-Quds, dan merupakan tempat yang terkait dengan perjalanan spiritual Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

 

Menurut hadis-hadis, Nabi Muhammad melakukan perjalanan malam (Isra) dari Masjid al-Haram di Mekah ke Masjid al-Aqsa di Yerusalem, dan dari sana ia naik ke langit (Mi'raj), bertemu dengan Tuhan. Peristiwa ini menjadi salah satu titik puncak dalam kehidupan Nabi Muhammad dan dianggap sebagai momen yang memperkuat legitimasi spiritual Yerusalem dalam Islam.

 

Masjid Al-Aqsa, yang terletak di kompleks Haram al-Sharif (Tempat Suci yang Mulia), adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjid al-Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini merupakan simbol penting dalam sejarah dan spiritualitas Islam, dan bagi umat Muslim, mengunjungi Al-Aqsa adalah suatu ibadah yang sangat dihargai.

 

Selain itu, Yerusalem juga berperan dalam eskatologi Islam, di mana dikatakan bahwa kota ini akan menjadi tempat pertempuran besar menjelang Hari Kiamat, di mana kebenaran akan menang atas kebatilan.

 

Konflik dan Ketegangan di Yerusalem

Salah satu tema utama yang dibahas Karen Armstrong dalam bukunya adalah ketegangan yang terus berlangsung di Yerusalem, yang telah menjadi sumber konflik selama berabad-abad. Ketiga agama monoteistik besar ini memiliki klaim terhadap kota ini, dan klaim tersebut sering kali berkonflik satu sama lain, baik dalam hal agama, budaya, maupun politik.

 

Pada abad pertengahan, Yerusalem menjadi fokus utama dalam Perang Salib, ketika pasukan Kristen mencoba merebut kota tersebut dari kekuasaan Muslim. Kemudian, selama berabad-abad berikutnya, Yerusalem menjadi pusat dari berbagai kekuasaan, dari Kekaisaran Ottoman hingga kekuasaan Inggris pada awal abad ke-20. Konflik atas penguasaan Yerusalem terus berlanjut hingga zaman modern, dengan ketegangan antara Israel dan Palestina serta antara umat Kristen, Muslim, dan Yahudi.

 

Armstrong menggambarkan bahwa meskipun ada ketegangan dan konflik, Yerusalem juga menjadi simbol harapan untuk perdamaian dan rekonsiliasi. Ia berpendapat bahwa pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah dan makna spiritual kota ini dapat menjadi kunci untuk menciptakan pemahaman dan perdamaian di masa depan.

 

Menurut Karen Armstrong, Yerusalem adalah lebih dari sekadar sebuah kota fisik; ia adalah tempat yang membentuk identitas spiritual dan sejarah bagi jutaan orang di seluruh dunia. Sebagai kota suci bagi Yahudi, Kristen, dan Islam, Yerusalem memegang peranan yang sangat penting dalam tradisi dan ajaran ketiga agama ini. Meskipun sejarahnya penuh dengan konflik, Yerusalem tetap menjadi simbol harapan dan kebersamaan, dan dalam pandangan Armstrong, ia mengingatkan umat manusia akan pentingnya pengertian, toleransi, dan perdamaian antaragama.

Komentar